“Mereka hanya dapat menembak tubuh saya, tetapi tidak mimpi saya agar
semua anak bisa bersekolah. Sebab bila anda tidak memberi mereka pena, para
teroris akan memberi mereka senjata”(Malala)
PROLOG
Mingora, Selasa
tanggal 9 Oktober 2012. Sebuah truk Toyota Town Ace putih muncul. Serombongan
anak perempuan berlari-lari naik ke
bagian belakang bus. Ada duapuluh anak perempuan dan tiga guru yang
berjejal-jejal di dalam truk itu. Mereka akan menuju sekolah. Sekitar 200 meter
dari pos pemeriksaan, truk mereka mendadak dihentikan. Seorang lelaki muda
berjanggut melangkah ke jalanan dan memaksa truk berhenti. Seorang lelaki
bertopi pet melompat ke bak belakang truk.
“Yang mana Malala?” ,teriaknya.
Beberapa anak
memandang ke arahnya. Lelaki itu mengangkat sepucuk pistol hitam dan menembak
tiga kali secara beruntun. Tembakan pertama mengenai gadis itu, dua tembakan
lain mengenai temannya. Lalu dia terkulai menimpa temannya dengan darah
mengucur dari telinga kiri. Dan dia tak mengingat apa-apa lagi…..
******************
Tanggal 12 Juli
1997, saat bintang terakhir padam dan
fajar menjelang, seorang anak perempuan suku Pashtun lahir ke bumi. Dia lahir
di negeri yang menembakkan senjata untuk merayakan kelahiran anak laki-laki dan
menyembunyikan anak perempuan di balik tirai. Silsilah keluarga mereka hanya
memperlihatkan keturunan laki-laki. Namun ayahnya, Ziauddin Yousafzai,
mengambil silsilah itu, menarik garis dan menuliskan nama anak perempuannya
di ujungnya : “Malala”. Nama itu diambil dari seorang pahlawan perempuan
terbesar Pakistan bernama Malalai dari
Maiwand. Suku Pashtun berserak di antara Pakistan dan Afganishtan. Malalai
menginspirasi tentara Afganishtan mengalahkan Inggeris tahun 1880 dalam
pertempuran Perang Inggeris-Afganishtan kedua.
Malala tinggal
di kota Mingora, yang terletak di sebuah tempat yang sangat indah di sebuah
lembah. Lembah Swat namanya. Keindahannya bagaikan kerajaan surgawi yang
terdiri dari pegunungan, air terjun berair deras, dan danau-danau sejernih
Kristal. Orang sering menjulukinya Swiss dari Timur. Swat dulunya adalah Negara
kerajaan yang bersama kerajaan tetangganya menyatakan kesetiaan kepada kolonial
Inggeris namun tetap memerintah kerajaan mereka. Ketika Inggeris memerdekakan
India tahun 1947, Swat masuk dalam Pakistan yang memerdekakan diri India.
Ketika Malala
lahir, Pakistan tengah diwarnai alam demokrasi dengan pergantian pemimpin dari
Perdana Menteri Benazir Bhutto ke Nawaz Sharif. Namun 2 tahun kemudia, Pakistan
kembali diambil alih oleh kekuasaan militer ketika perselisihan antara Nawaz
Sharif dengan panglima militer Jenderal Perez Musharraf. Nawaz Sharif memecat
jenderal Musharraf. Jenderal Mushararaf dengan dukungan Militer bereaksi dan
merebut kekuasaan. Nawaz Shariff dilemparkan ke penjara di benteng Attock.
Ayah Malala
berjuang sangat keras untuk membangun sekolah SD, dan juga SMU untuk anak
perempuan. Mereka memiliki sekitar 800 siswa. Walau tidak mendapat keuntungan
dari sekolah tersebut, ayah Malala memberikan seratus kursi gratis untuk
anak-anak yang belajar. Hal ini bertolakbelakang dengan sikap sebagian
orang-orang berpengaruh di wilyah itu yang membuat “sekolah fiktif”. Mereka
menerima uang dari pemerintah untuk sekolah-sekolah yang tidak pernah ada
muridnya walau seorang. Ada juga orang yang menerima uang pensiun guru walau
tidak pernah mengajar seumur hidupnya. Komandan militer lokal menyebut ayah
Malala sangat berbahaya karena orang-orang di Swat suka mendengarkannya
dan berani mengeritik penguasa militer
yang berkuasa.
Ketika serangan
terhadap World trade Centre terjadi pada tanggal 9 November 2001, Amerika
menyatakan perang terhadap rezim Taliban pimpinan Al Qaeda yang dituduh
memimpin serangan terhadap gedung tersebut. Pemimpin Al Qaeda, Osama Bin Laden
saat itu tinggal di Kandahar ,Afganistan. Presiden George Bush mengundang
Jenderal Musharrf ke Gedung Putih untuk mengajaknya bersama-sama memerarangi
Taliban.
Pengaruh Taliban
yang tidak mengijinkan anak perempuan bersekolah sampai juga ke tempat Malala.
Di seberang sekolah ayahnya, seorang ulama yang menyebut dirinya Mufti,
memperhatikan anak-anak perempuan remaja yang keluar masuk sekolah. Dia marah
lalu membujuk pemilik gedung untuk mengambil gedung itu kembali dan menyewakan
kepadanya untuk dijadikan madrasah. Menurutnya anak-anak permpuan harusnya
berada di bilik purdah dan sekolah ayah Malala telah menjalankan sekolah haram.
Namun pemilik gedung itu menolak dan memberitahu ayah Malala mengenai rencana
mufti itu dan memintanya berhati-hati.
Karena gagal
membujuk pemilik gedung itu, Mufti itu mengumpulkan tetua yang berpengaruh
untuk menemui ayah Malala. Saat bertemu, Mufti itu menyatakan mereka sebagai
wakil kaum Muslim yang baik meminta agar sekolah itu ditutup karena sekolah
untuk anak perempuan haram dan merupakan penghujatan. Menurutnya, anak
perempuan begitu suci sehingga harus berada di bilik purdah.
++++++++++++++++++
Kelompok Taliban
mulai masuk ke Lembah Swat. Malala baru berusia sepuluh tahun saat itu. Tampang
mereka aneh dengan janggut dan rambut panjang tak terurus, serta celana panjang
di atas pergelangan kaki. Pemimpin mereka bernama Maulana Fazlulah. Untuk menjalankan misinya, Fazlulah
mendirikan sebuah stasiun radio . Lewat radio, Fazlulah mendorong orang untuk
menjalankan kebiasaan-kebiasaan baik dan meninggalkan hal-hal yang dianggapnya
buruk. Tapi dia juga melarang orang untuk mendengarkan music, menonton film dan
menari. Menurutnya, perbuatan-perbuatan dosa seperti ini yang menyebabkan Allah
marah dengan menimbulkan gempa bumi.
Mertua Fazlullah
bernama Sufi Mohamad, menyatakan dari balik penjara bahwa anak perempuan
seharusnya tidak mendapat pendidikan. Madrasah untuk anak-anak perempuan juga
tidak.. Mullah radio pun mulai menentang para pengurus sekolah. Mereka
memberikan ucapan selamat untuk anak-anak yang meninggalkan sekolah. Anak-anak
yang masih bersekolah disebutnya kerbau dan domba. Suatu hari setelah kembali
liburan, sepucuk surat tertempel di gerbang sekolah Malala. Surat itu
menyatakan bahwa sekolah tersebut adalah Barat dan kafir. Sekolah itu itu juga
dituduh telah mengajarkan dan memiliki seragam yang tidak islami. Ayah Malala
diancam akan dibunuh bila meneruskan sekolahnya.
*****************
Seorang
koresponden BBC mencari seorang guru perempuan atau murid perempuan untuk
menulis buku harian mengenai kehidupan di bawah Taliban. Dia ingin menunjukkan
bencana di Swat dari sisi kemanusiaan. Dia menelepon ayah Malala. Saat ayahnya
bercerita tentang hal itu, Malala langsung menyatakan kesediaannya. Dia ingin
semua orang tahu apa yang terjadi tentang haknya untuk mendapatkan yang
direnggut Taliban. Padahal Islam mengatakan semua anak laki-laki dan perempuan
harus bersekolah. Al Quran justru mendorong manusia untuk mencari ilmu
pengetahuan dan mempelajari misteri-misteri dunia.
Malala belum
pernah menulis buku harian. Maka koresponden bernama Abdul Hai Kakar tersebut
membimbingnya lewat telepon seluler pada malam hari, mengajukan
pertanyaan-pertanyaan tentang hari-harinya atau membicarakan mimpi-mimpinya.
Cerita-cerita Malala lewat ponsel itu dituliskan oleh Kakar dan muncul seminggu
sekali di situs web BBC Urdu. Hai Kakar memberikan nama samara Gul Makai yang berarti “bunga jagung”
untuk melindungi Malala.
Tulisan pertama
Malala berjudul AKU TAKUT pada tanggal 3 Januari 2009. Tulisan itu bercerita
tentang ketakutan bersekolah dan mimpi yang mengerikan sejak adanya operasi
militer di Swat. Dia juga menulis tentang
sekolah yang menjadi pusat kehidupannya. Tentang seragam sekolah biru
cerah kesayangannya yang harus disembunyikan karena adanya larangan memakai baju
warna-warni. Buku harian itu mendapat banyak perhatian, bahkan dicetak oleh
koran-koran. BBC juga membuat rekaman tulisan tersebut dengan menggunakan suara
anak perempuan lain. Malala mulai merasakan bahwa pena dan kata-kata bisa jauh
lebih berdaya dibanding senapan, tank dan helicopter.
*******************
Akhirnya Tentara
Pakistan melancarkan Operasi Jalan Kebenaran untuk mengusir Taliban dari Swat.
Semua penduduk diperintahkan untuk mengungsi. Malala dan keluarganya akhirnya
harus meninggalkan rumahnya. Hatinya terkoyak. Dia berdiri di atas atap rumah
memandang Gunung Elum yang berpuncak salju. Tak terdengar suara sungai dan
desau angin. Burung-burung berhenti berkicau. Malala menangis. Mungkin dia
tidak akan pernah melihat rumahnya lagi.Mereka meninggalkan Lembah Swat menuju
Mardan, kota yang panas dan sibuk. Di sana, dua juta orang pengungsi telah
berkumpul di tenda-tenda yang didirikan UNHCR. Dari sana mereka kemudian menuju
Shangla. Mereka tinggal di desa ibunya bersama paman dan keluarganya. Setelah
enam minggu, mereka kemudian menuju Islamabad ,berjumpa dengan ayahnya yang
sudah duluan berangkat ke sana.
Tiga bulan
lamanya Malala dan keluarganya meninggalkan rumahnya di Lembah Swat. Ketika
mereka pulang, kota mereka sudah berubah sama sekali. Mereka mendapat
bangunan-bangunan yang hancur, kenderaan yang gosong, toko-toko yang dijarah.
Kota itu sunyi tanpa orang dan lalu lintas.
Namun Malala cukup beruntung
rumahnya tidak ikut dijarah. Tas berisi buku sekolahnya masih utuh.
Bel sekolah
Malala kahirnya berdering kembali. Dengan riang mereka memasuki gerbang
sekolah, bertemu dan bercerita dengan kawan lama pengalaman saat mengungsi.
Mereka juga mendapatkan undangan dari
temannya Shiza Sahid di Islamabad mengikuti
lokakarya untuk membantu mereka mengatasi trauma. Dalam lokakarya mereka dijari
untuk menceritakan kisah mereka sehingga orang luar bisa memahami apa yang
terjadi di lembah Swat dan membantu mereka.Shiza juga memperkenalkan mereka
dengan perempuan-perempuan yang menjadi pengacara, dokter dan aktivis di
Islamabad. Mereka menyadari bahwa perempuan bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan
penting sambil tetap mempertahankan budaya dan tradisi mereka.
Perempuan-perempuan itu tidak mengenakan purdah saat di jalanan. Kepala mereka
tidak tertutup sama sekali. Malala
sempat melepas kerudungnya dalam beberapa pertemuan dan berpikiri dirinya sudah
menjadi anak perempuan modern. Namun kemudian disadarinya, bahwa dia tidak bisa
menjadi modern hanya dengan melepas kerudungnya.
Mereka juga
diperkenalkan dengan juru bicara utama dan kepala humas tentara ,Mayor jenderal
Anthar Abbas. Malala terkejut betapa lengkapnya informasi yang ada di markas
militer itu. Di sana ada petugas yang memantau setiap saluran TV. Ada juga
perwira yang menunjukkan arsip yang menyebut kata-kata tentara di Koran hari
itu. Jenderal abbas juga bercerita mengenai kemenangan operasi di Swat yang
menewaskan 128 tentara dan 1600 teroris. Namun Malala mempertanyakan, dengan
begitu banyak informasi yang dimiliki, kenapa tentara tidak dapat menangkap
Fazlullah dan deputinya? Jenderal Abbas tidak dapat memberikan jawaban yang
jelas dan tegas. Mereka juga
menyampaikan kepada Jenderal Abbas, bahwa anak-anak perempuan ingin melihat
Taliban diadili, tapi mereka tidak yakin itu akan terjadi.
Suatu hari, seorang wartawan Pakistan yang
tinggal di Alaska datang berbincang dengan Malala dan ayahnya. Dia memberitahu ayahnya bahwa Malala masuk
dalam target ancaman Taliban untuk dibunuh karena dianggap telah menyebarkan
sekularisme. Ayah dan ibunya menjadi khawatir. Ayahnya membujuk agar mereka menghentikan
kampanye mereka untuk sementara waktu. Namun Malala menolak Bukankah ayahnya
pernah berkata bahwa jika kita mempunyai sesuatu yang lebih berharga dari nyawa
kita sendiri, maka suara kita akan berlipat ganda walaupun kita sudah mati?
Supir bus bernama Usman Bhai Jan tersadar apa
yang terjadi. Bis itu segera dilarikannya ke Rumah Sakit Pusat Swat. Anak-anak
berteriak dan menangis. Tapi di tengah jalan polisi menghentikan bus mereka.
Seorang anak meraba leher untuk mencari denyut nadi Malala.
“Dia masih
Hidup!”segera bawa dia ke rumah sakit.”
Di rumah sakit,
dokter membersihkan dan membalut lukanya. Dari CT Scan, terlihat tembakan tidak
mengenai otaknya.,hanya mengenai keningnya. Malala kemudian dibawa dengan
helicopter ke Peshawar. Dia ditangani seorang ahli syaraf bernama Kolonel
Junaid. Dokter Junaid menemukan peluru itu bersarang di samping tulang belikat
Malala. Dari pemindaian ulang, terlihat bahwa peluru melesat sangat dekat
dengan otak sehingga pecahan tulang telah merusak selaput otak.
Tengah malam,
dokter memberitahu bahwa kondisi Malala menurun. Kesadarannya melemah dan
muntah darah. Dari CT Scan ketiga, terlihat otaknya membengkak yang
membahayakan.Dokter menyarankan untuk melakukan operasi pemotongan tengkorak
agar ada ruang bagi otaknya mengembang. Tangan ayahnya gemetar ketika
menandatangani dokumen persetujuan operasi dengan resiko anaknya meninggal.
Operasi dimulai jam 01.30 dinihari. Ayah dan
ibunya menunggu di luar ruang operasi.Ayahnya hanya mampu berdoa kepada Tuhan,
kiranya Tuhan menyembuhkan Malala. Dia rela menyerahkan seluruh hidupnya dan
tinggal di Gunung Sahara asal Malala bisa membuka mata dan tetap hidup karena
dia tak bisa hidup tanpa Malala. Ibunya berdoa dan membaca AL-Quran dengan
berdiri menghadap dinding, melafalkan ayat-ayat berulang-ulang selama
berjam-jam. Operasi selesai pukul 05.30 pagi.
Sore harinya dua
orang dokter Inggris,Dr. Javid Kayani dan Dr. Fiona Reynolds datang. Mereka
kebetulan sedang ada di Pakistan dan diminta Jenderal Kayani untuk memeriksa
Malala sebelum mereka terbang kembali ke Inggris.Dr. Fiona yang mendengar
Malala aktif berkampanye untuk pendidikan anak perempuan sangat senang bisa
membantu. Dr. Fiona mengatakan Malala terselamatkan karena operasi yang tepat
pada saat yang tepat .Tapi peluang penyembuhannya dirusak oleh
pascaperawatannya. Mereka melaporkan kepada Jenderal Kayani, seandainya
dibiarkan di Peshawar, Malala akan mengalami kerusakan otak atau mungkin mati
karena rendahnya kualitas perawatan dan tingginya resiko infeksi.
Staf rumah sakit
tidak melakukan rekomendasi Dr. Fiona. Hari Kamis pagi, kondisi Malala
memburuk. Infeksi sudah menyerang. Darahnya tidak bisa membeku (Diiseminated
Itravascular Coagulation), tekanan darahnya rendah, dan kadar asam dalam
darahnya meningkat. Dr.Fiona yang sudah
siap di bandara untuk kembali ke Birmingham
diberitahu kondisi Malala makin parah .Dia kembali ke Peshawar dan
membawa Malala ke Rawalpindi dengan helicopter. Setelah mempelajari siapa
Malala lewat Google, dia merasa ini bukan kasus biasa dan menjadi
tanggung-jawabnya. Bila Malala meninggal, berarti dia telah ikut membunuh Ibu
Teresa-nya Pakistan.
Dr. Fiona
menyarankan agar Malala dibawa ke luar negeri karena Pakistan tidak memiliki
fasilitas rehabilitasi ekstensif. Malala harus dipindahkan dalam waktu empat
puluh delapan jam,paling lama tujuh puluh dua jam. Dr. javid menyarankan agar
menerima tawaran dari Angkatan udara Inggris untuk memindahkan Malala ke
Inggris. Namun Jenderal Kayani menolak keterlibatan militer asing. Pemerintah
Pakistan juga enggan meminta bantuan pemerintah Inggris karena takut kehilangan
muka. Keluarga pemerintha Uni Emirat Arab akhirnya turun tangan membantu
menawarkan jet pribadi dengan fasilitas rumah sakit mini di dalam pesawat
dengan staf perawat Eropa dipimpin seorang dokter Jerman. Pukul 5 pagi, tanggal
15 Oktober, akhirnya diterbangkan ke Rumah Sakit Queen Elizabeth di Birmingham.
*****************
Birmingham,
tanggal 16 Oktober 2012. Malala siuman seminggu setelah penembakan. Ribuan
kilometer terbentang jarak antara rumahnya dengan tempatnya dirawat di negeri
asing. Ayah ,ibu dan adik lelaki tak ada di sampingnya. Mereka masih tertahan
di Pakistan. Ketika ayah ibunya akhirnya bisa datang, mereka menjumpai putrinya
sudah berbeda dari yang dulu. Wajahnya tidak simetris karena setengah wajahnya
tidak berfungsi. Dia tidak bisa tersenyum. Operasi wajahnya dilakukan tanggal
11 November 2012. Butuh waktu tiga bulan hingga sisi kiri wajahnya berfungsi
sedikit demi sedikit. Malala akhirnya bisa keluar dari rumah sakit awal Januari
2013. Mereka tinggal di sebuah apartemen yang disewa Komisioner Tinggi Pakistan
di pusat kota Birmingham. Namun dia masih menjalani operasi kembali di bulan
Februari untuk memasang lempeng titanium dengan bantuan delapan sekerup yang
berfungsi sebagai tengkorak dan melindungi otaknya. Karena gendang telinga
kirinya rusak sehingga kurang bisa mendengar, dokter Irving memasang alat
elektronik kecil di kepala dekat telinganya.
Doa Untuk Malala
Seluruh dunia
terguncang dan marah atas penembakan Malala. Mantan Perdana Menteri Inggeris
dan utusan khusus PBB untuk Pendidikan,George Brown, meluncurkan petisi yang
menuntut agar tidak ada anak yang dilarang bersekolah pada tahun 2015, dengan
semboyan “Aku Malala”. Perserikatan
Bangsa-Bangsa menetapkan tgl 10 November ,satu bulan satu hari setelah
penembakan Malala sebagai Hari Malala.
Ada 8000 kartu ucapan yang ditujukan padanya di rumah sakit Birmingham.
Anak-anak mendiang Perdana Menteri Benazir Bhutto, datang membawa bingkisan
berisi syal milik ibunya. Presiden Pakistan Asif Zardari datang mengunjunginya
ke rumah sakit di Birmingham dan menyatakan seluruh biaya pengobatannya
sejumlah £ 200.000 akan dibayar oleh pemerintah.
Pada ulang
tahunnya keenam belas pada tahun 2013, Malala tampil di forum Perserikatan
Bangsa-bangsa. Berdiri di podium dengan mengenakan syal putih Benazir Bhutto,
Malala menghimbau para pemimpin dunia untuk memberikan pendidikan gratis kepada
semua anak di dunia. Dia menyatakan betapa pentingnya buku,guru dan pena untuk
setiap anak, karena mereka bisa mengubah dunia.
Nobel Perdamaian
Tanggal 10
Oktober 2014, Panitia Penghargaan Nobel di Stockholm Swedia mengumumkan
pemenang Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2014. Penghargaan tahun ini diberikan
kepada Malala bersama Kailash Satyarthi, seorang aktivis HAM dari India. Penghargaan ini
diberikan atas perjuangan mereka berdua melawan tekanan terhadap anak dan
remaja untuk mendapatkan pendidikan. Perjuangan keduanya merupakan langkah
penting bagi seorang penganut Hindu dan Islam, warga India dan Pakistan, untuk
bersama-sama memperjuangkan pendidikan dan melawan ekstrimisme.
Di Negara-negara miskin, 60% penduduk berusia
di bawah 25 tahun. Maka persyaratan pembangunan global yang damai adalah bahwa
hak-hak anak dan orang muda harus dihormati. Malala, dalam usia muda, telah
beberapa tahun memperjuangkan hak anak-anak perempuan untuk mendapatkan
pendidikan. Dirinya menjadi contoh bahwa anak-anak dan orang muda bisa
berkontribusi untuk memperbaiki situasi mereka sendiri.
Malala berbagi
dua hadiah sebesar $1,1 juta dengan Kailash Sathyarthi. Dari hadiah yang
diterimanya, Malala menyumbang $50.000 untuk pembangunan sekolah untuk
anak-anak di Gaza.Malala bersama ayah dan temannya, juga telah mendirikan Malala Fund, sebuah organisasi yang
membantu anak-anak perempuan untuk mendapatkan pendidikan berkualitas, dan
dukungan bagi pekerja rumah tangga anak memberikan pendidikan bagi anak
perempuan yang menikah muda dan tidak bisa ke sekolah, memberikan dana untuk
perluasan sekolah dan infrastruktur sehingga lebih banyak anak perempuan yang
bisa menikmati pendidikan berkualitas. Proyek mereka tersebar di Pakistan,
Kenya, Nigeria dan Jordania.
EPILOG
Ketika Malala
lahir, bintang terakhir sudah padam saat fajar menjelang. Namun Malala kini
telah menjadi seorang anak yang menyinari banyak orang yang masih terkungkung
dalam gelapnya paham sempit agama. Dia adalah gadis cilik yang mendorong para
pemimpin dunia untuk memberikan hak bagi banyak anak perempuan akan pendidikan
yang membebaskan di berbagai belahan bumi. Dia telah berjuang dengan melewati
batas antara hidup dan mati. Memperjuangkan sesuatu yang lebih berharga dari
nyawanya. Penyair Subagio Satrowardoyo
pernah menuliskan sebuah requiem,”Dan
Kematian Makin Akrab”:
Di ujung musim yang mati dulu
Bukan yang dirongrong penyakit tua,
melainkan dia
Yang berdiri menentang angin
Di atas bukit atau dekap pantai
Dimana badai mengancam nyawa.
Sebelum umur pahlawan ditanam di gigir
gunung
Atau di taman-taman pahlawan
Tempat anak-anak bermain layang-layang
Kini dia telah
melangkah jauh dari rumah dan lembahnya. Wajah dan lingkungannya telah berubah.
Namun keinginannya untuk memberi pendidikan bagi anak perempuan tetap sama.
Dialah Bintang Fajar dari Lembah Swat. Malala..Malala…
BAHAN BACAAN
- I am Malala ,Menantang Maut di Perbatasan Pakistan-Afghanistan(terjemahan),Malala Yousafjay dan Christina Lamb, Penerbit Mizan, Bandung, Cet. I, Mei 2014
- Proses Kreatif, Mengapa dan bagaimana Saya Mengarang, Pamusuk Eneste (Editor), Penerbit PT Gramedia,Jakarta,1983
- Komite Hadiah Noble, http://www.nobelprize.org
- Malala Fund , http://www.malala.org/
- http://www.voaindonesia.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar