Kamis, 01 Januari 2015

BINTANG FAJAR DARI LEMBAH SWAT




“Mereka hanya dapat menembak tubuh saya, tetapi tidak mimpi saya agar semua anak bisa bersekolah. Sebab bila anda tidak memberi mereka pena, para teroris akan memberi mereka senjata”(Malala)


PROLOG
Mingora, Selasa tanggal 9 Oktober 2012. Sebuah truk Toyota Town Ace putih muncul. Serombongan anak perempuan berlari-lari  naik ke bagian belakang bus. Ada duapuluh anak perempuan dan tiga guru yang berjejal-jejal di dalam truk itu. Mereka akan menuju sekolah. Sekitar 200 meter dari pos pemeriksaan, truk mereka mendadak dihentikan. Seorang lelaki muda berjanggut melangkah ke jalanan dan memaksa truk berhenti. Seorang lelaki bertopi pet melompat ke bak belakang truk.
 “Yang mana Malala?” ,teriaknya.
Beberapa anak memandang ke arahnya. Lelaki itu mengangkat sepucuk pistol hitam dan menembak tiga kali secara beruntun. Tembakan pertama mengenai gadis itu, dua tembakan lain mengenai temannya. Lalu dia terkulai menimpa temannya dengan darah mengucur dari telinga kiri. Dan dia tak mengingat apa-apa lagi…..
                                                    ******************
Tanggal 12 Juli 1997, saat bintang terakhir padam  dan fajar menjelang, seorang anak perempuan suku Pashtun lahir ke bumi. Dia lahir di negeri yang menembakkan senjata untuk merayakan kelahiran anak laki-laki dan menyembunyikan anak perempuan di balik tirai. Silsilah keluarga mereka hanya memperlihatkan keturunan laki-laki. Namun ayahnya, Ziauddin Yousafzai,  mengambil silsilah itu, menarik garis dan menuliskan nama anak perempuannya di ujungnya : “Malala”. Nama itu diambil dari seorang pahlawan perempuan terbesar Pakistan bernama Malalai dari Maiwand. Suku Pashtun berserak di antara Pakistan dan Afganishtan. Malalai menginspirasi tentara Afganishtan mengalahkan Inggeris tahun 1880 dalam pertempuran Perang Inggeris-Afganishtan kedua.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                         
Malala tinggal di kota Mingora, yang terletak di sebuah tempat yang sangat indah di sebuah lembah. Lembah Swat namanya. Keindahannya bagaikan kerajaan surgawi yang terdiri dari pegunungan, air terjun berair deras, dan danau-danau sejernih Kristal. Orang sering menjulukinya Swiss dari Timur. Swat dulunya adalah Negara kerajaan yang bersama kerajaan tetangganya menyatakan kesetiaan kepada kolonial Inggeris namun tetap memerintah kerajaan mereka. Ketika Inggeris memerdekakan India tahun 1947, Swat masuk dalam Pakistan yang memerdekakan diri India.
Ketika Malala lahir, Pakistan tengah diwarnai alam demokrasi dengan pergantian pemimpin dari Perdana Menteri Benazir Bhutto ke Nawaz Sharif. Namun 2 tahun kemudia, Pakistan kembali diambil alih oleh kekuasaan militer ketika perselisihan antara Nawaz Sharif dengan panglima militer Jenderal Perez Musharraf. Nawaz Sharif memecat jenderal Musharraf. Jenderal Mushararaf dengan dukungan Militer bereaksi dan merebut kekuasaan. Nawaz Shariff dilemparkan ke penjara di benteng Attock.
Ayah Malala berjuang sangat keras untuk membangun sekolah SD, dan juga SMU untuk anak perempuan. Mereka memiliki sekitar 800 siswa. Walau tidak mendapat keuntungan dari sekolah tersebut, ayah Malala memberikan seratus kursi gratis untuk anak-anak yang belajar. Hal ini bertolakbelakang dengan sikap sebagian orang-orang berpengaruh di wilyah itu yang membuat “sekolah fiktif”. Mereka menerima uang dari pemerintah untuk sekolah-sekolah yang tidak pernah ada muridnya walau seorang. Ada juga orang yang menerima uang pensiun guru walau tidak pernah mengajar seumur hidupnya. Komandan militer lokal menyebut ayah Malala sangat berbahaya karena orang-orang di Swat suka mendengarkannya dan  berani mengeritik penguasa militer yang berkuasa.
Ketika serangan terhadap World trade Centre terjadi pada tanggal 9 November 2001, Amerika menyatakan perang terhadap rezim Taliban pimpinan Al Qaeda yang dituduh memimpin serangan terhadap gedung tersebut. Pemimpin Al Qaeda, Osama Bin Laden saat itu tinggal di Kandahar ,Afganistan. Presiden George Bush mengundang Jenderal Musharrf ke Gedung Putih untuk mengajaknya bersama-sama memerarangi Taliban.
Pengaruh Taliban yang tidak mengijinkan anak perempuan bersekolah sampai juga ke tempat Malala. Di seberang sekolah ayahnya, seorang ulama yang menyebut dirinya Mufti, memperhatikan anak-anak perempuan remaja yang keluar masuk sekolah. Dia marah lalu membujuk pemilik gedung untuk mengambil gedung itu kembali dan menyewakan kepadanya untuk dijadikan madrasah. Menurutnya anak-anak permpuan harusnya berada di bilik purdah dan sekolah ayah Malala telah menjalankan sekolah haram. Namun pemilik gedung itu menolak dan memberitahu ayah Malala mengenai rencana mufti itu dan memintanya berhati-hati.
Karena gagal membujuk pemilik gedung itu, Mufti itu mengumpulkan tetua yang berpengaruh untuk menemui ayah Malala. Saat bertemu, Mufti itu menyatakan mereka sebagai wakil kaum Muslim yang baik meminta agar sekolah itu ditutup karena sekolah untuk anak perempuan haram dan merupakan penghujatan. Menurutnya, anak perempuan begitu suci sehingga harus berada di bilik purdah.
++++++++++++++++++
Kelompok Taliban mulai masuk ke Lembah Swat. Malala baru berusia sepuluh tahun saat itu. Tampang mereka aneh dengan janggut dan rambut panjang tak terurus, serta celana panjang di atas pergelangan kaki. Pemimpin mereka bernama Maulana Fazlulah.  Untuk menjalankan misinya, Fazlulah mendirikan sebuah stasiun radio . Lewat radio, Fazlulah mendorong orang untuk menjalankan kebiasaan-kebiasaan baik dan meninggalkan hal-hal yang dianggapnya buruk. Tapi dia juga melarang orang untuk mendengarkan music, menonton film dan menari. Menurutnya, perbuatan-perbuatan dosa seperti ini yang menyebabkan Allah marah dengan menimbulkan gempa bumi.
Mertua Fazlullah bernama Sufi Mohamad, menyatakan dari balik penjara bahwa anak perempuan seharusnya tidak mendapat pendidikan. Madrasah untuk anak-anak perempuan juga tidak.. Mullah radio pun mulai menentang para pengurus sekolah. Mereka memberikan ucapan selamat untuk anak-anak yang meninggalkan sekolah. Anak-anak yang masih bersekolah disebutnya kerbau dan domba. Suatu hari setelah kembali liburan, sepucuk surat tertempel di gerbang sekolah Malala. Surat itu menyatakan bahwa sekolah tersebut adalah Barat dan kafir. Sekolah itu itu juga dituduh telah mengajarkan dan memiliki seragam yang tidak islami. Ayah Malala diancam akan dibunuh bila meneruskan sekolahnya.
*****************
Seorang koresponden BBC mencari seorang guru perempuan atau murid perempuan untuk menulis buku harian mengenai kehidupan di bawah Taliban. Dia ingin menunjukkan bencana di Swat dari sisi kemanusiaan. Dia menelepon ayah Malala. Saat ayahnya bercerita tentang hal itu, Malala langsung menyatakan kesediaannya. Dia ingin semua orang tahu apa yang terjadi tentang haknya untuk mendapatkan yang direnggut Taliban. Padahal Islam mengatakan semua anak laki-laki dan perempuan harus bersekolah. Al Quran justru mendorong manusia untuk mencari ilmu pengetahuan dan mempelajari misteri-misteri dunia.
Malala belum pernah menulis buku harian. Maka koresponden bernama Abdul Hai Kakar tersebut membimbingnya lewat telepon seluler pada malam hari, mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang hari-harinya atau membicarakan mimpi-mimpinya. Cerita-cerita Malala lewat ponsel itu dituliskan oleh Kakar dan muncul seminggu sekali di situs web BBC Urdu. Hai Kakar memberikan nama samara Gul Makai yang berarti “bunga jagung” untuk melindungi Malala.
Tulisan pertama Malala berjudul AKU TAKUT pada tanggal 3 Januari 2009. Tulisan itu bercerita tentang ketakutan bersekolah dan mimpi yang mengerikan sejak adanya operasi militer di Swat. Dia juga menulis tentang  sekolah yang menjadi pusat kehidupannya. Tentang seragam sekolah biru cerah kesayangannya yang harus disembunyikan karena adanya larangan memakai baju warna-warni. Buku harian itu mendapat banyak perhatian, bahkan dicetak oleh koran-koran. BBC juga membuat rekaman tulisan tersebut dengan menggunakan suara anak perempuan lain. Malala mulai merasakan bahwa pena dan kata-kata bisa jauh lebih berdaya dibanding senapan, tank dan helicopter.
*******************
Akhirnya Tentara Pakistan melancarkan Operasi Jalan Kebenaran untuk mengusir Taliban dari Swat. Semua penduduk diperintahkan untuk mengungsi. Malala dan keluarganya akhirnya harus meninggalkan rumahnya. Hatinya terkoyak. Dia berdiri di atas atap rumah memandang Gunung Elum yang berpuncak salju. Tak terdengar suara sungai dan desau angin. Burung-burung berhenti berkicau. Malala menangis. Mungkin dia tidak akan pernah melihat rumahnya lagi.Mereka meninggalkan Lembah Swat menuju Mardan, kota yang panas dan sibuk. Di sana, dua juta orang pengungsi telah berkumpul di tenda-tenda yang didirikan UNHCR. Dari sana mereka kemudian menuju Shangla. Mereka tinggal di desa ibunya bersama paman dan keluarganya. Setelah enam minggu, mereka kemudian menuju Islamabad ,berjumpa dengan ayahnya yang sudah duluan berangkat ke sana.
Tiga bulan lamanya Malala dan keluarganya meninggalkan rumahnya di Lembah Swat. Ketika mereka pulang, kota mereka sudah berubah sama sekali. Mereka mendapat bangunan-bangunan yang hancur, kenderaan yang gosong, toko-toko yang dijarah. Kota itu sunyi tanpa orang dan lalu lintas.  Namun Malala  cukup beruntung rumahnya tidak ikut dijarah. Tas berisi buku sekolahnya masih utuh.
Bel sekolah Malala kahirnya berdering kembali. Dengan riang mereka memasuki gerbang sekolah, bertemu dan bercerita dengan kawan lama pengalaman saat mengungsi. Mereka juga mendapatkan undangan  dari temannya Shiza Sahid   di Islamabad mengikuti lokakarya untuk membantu mereka mengatasi trauma. Dalam lokakarya mereka dijari untuk menceritakan kisah mereka sehingga orang luar bisa memahami apa yang terjadi di lembah Swat dan membantu mereka.Shiza juga memperkenalkan mereka dengan perempuan-perempuan yang menjadi pengacara, dokter dan aktivis di Islamabad. Mereka menyadari bahwa perempuan bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan penting sambil tetap mempertahankan budaya dan tradisi mereka. Perempuan-perempuan itu tidak mengenakan purdah saat di jalanan. Kepala mereka tidak tertutup sama sekali.  Malala sempat melepas kerudungnya dalam beberapa pertemuan dan berpikiri dirinya sudah menjadi anak perempuan modern. Namun kemudian disadarinya, bahwa dia tidak bisa menjadi modern hanya dengan melepas kerudungnya.
Mereka juga diperkenalkan dengan juru bicara utama dan kepala humas tentara ,Mayor jenderal Anthar Abbas. Malala terkejut betapa lengkapnya informasi yang ada di markas militer itu. Di sana ada petugas yang memantau setiap saluran TV. Ada juga perwira yang menunjukkan arsip yang menyebut kata-kata tentara di Koran hari itu. Jenderal abbas juga bercerita mengenai kemenangan operasi di Swat yang menewaskan 128 tentara dan 1600 teroris. Namun Malala mempertanyakan, dengan begitu banyak informasi yang dimiliki, kenapa tentara tidak dapat menangkap Fazlullah dan deputinya? Jenderal Abbas tidak dapat memberikan jawaban yang jelas dan tegas. Mereka  juga menyampaikan kepada Jenderal Abbas, bahwa anak-anak perempuan ingin melihat Taliban diadili, tapi mereka tidak yakin itu akan terjadi.
 Suatu hari, seorang wartawan Pakistan yang tinggal di Alaska datang berbincang dengan Malala dan ayahnya.  Dia memberitahu ayahnya bahwa Malala masuk dalam target ancaman Taliban untuk dibunuh karena dianggap telah menyebarkan sekularisme. Ayah dan ibunya menjadi khawatir. Ayahnya membujuk agar mereka menghentikan kampanye mereka untuk sementara waktu. Namun Malala menolak Bukankah ayahnya pernah berkata bahwa jika kita mempunyai sesuatu yang lebih berharga dari nyawa kita sendiri, maka suara kita akan berlipat ganda walaupun kita sudah mati?
 Supir bus bernama Usman Bhai Jan tersadar apa yang terjadi. Bis itu segera dilarikannya ke Rumah Sakit Pusat Swat. Anak-anak berteriak dan menangis. Tapi di tengah jalan polisi menghentikan bus mereka. Seorang anak meraba leher untuk mencari denyut nadi Malala.
“Dia masih Hidup!”segera bawa dia ke rumah sakit.”
Di rumah sakit, dokter membersihkan dan membalut lukanya. Dari CT Scan, terlihat tembakan tidak mengenai otaknya.,hanya mengenai keningnya. Malala kemudian dibawa dengan helicopter ke Peshawar. Dia ditangani seorang ahli syaraf bernama Kolonel Junaid. Dokter Junaid menemukan peluru itu bersarang di samping tulang belikat Malala. Dari pemindaian ulang, terlihat bahwa peluru melesat sangat dekat dengan otak sehingga pecahan tulang telah merusak selaput otak.
Tengah malam, dokter memberitahu bahwa kondisi Malala menurun. Kesadarannya melemah dan muntah darah. Dari CT Scan ketiga, terlihat otaknya membengkak yang membahayakan.Dokter menyarankan untuk melakukan operasi pemotongan tengkorak agar ada ruang bagi otaknya mengembang. Tangan ayahnya gemetar ketika menandatangani dokumen persetujuan operasi dengan resiko anaknya meninggal.
 Operasi dimulai jam 01.30 dinihari. Ayah dan ibunya menunggu di luar ruang operasi.Ayahnya hanya mampu berdoa kepada Tuhan, kiranya Tuhan menyembuhkan Malala. Dia rela menyerahkan seluruh hidupnya dan tinggal di Gunung Sahara asal Malala bisa membuka mata dan tetap hidup karena dia tak bisa hidup tanpa Malala. Ibunya berdoa dan membaca AL-Quran dengan berdiri menghadap dinding, melafalkan ayat-ayat berulang-ulang selama berjam-jam. Operasi selesai pukul 05.30 pagi.
Sore harinya dua orang dokter Inggris,Dr. Javid Kayani dan Dr. Fiona Reynolds datang. Mereka kebetulan sedang ada di Pakistan dan diminta Jenderal Kayani untuk memeriksa Malala sebelum mereka terbang kembali ke Inggris.Dr. Fiona yang mendengar Malala aktif berkampanye untuk pendidikan anak perempuan sangat senang bisa membantu. Dr. Fiona mengatakan Malala terselamatkan karena operasi yang tepat pada saat yang tepat .Tapi peluang penyembuhannya dirusak oleh pascaperawatannya. Mereka melaporkan kepada Jenderal Kayani, seandainya dibiarkan di Peshawar, Malala akan mengalami kerusakan otak atau mungkin mati karena rendahnya kualitas perawatan dan tingginya resiko infeksi.
Staf rumah sakit tidak melakukan rekomendasi Dr. Fiona. Hari Kamis pagi, kondisi Malala memburuk. Infeksi sudah menyerang. Darahnya tidak bisa membeku (Diiseminated Itravascular Coagulation), tekanan darahnya rendah, dan kadar asam dalam darahnya meningkat.  Dr.Fiona yang sudah siap di bandara untuk kembali ke Birmingham  diberitahu kondisi Malala makin parah .Dia kembali ke Peshawar dan membawa Malala ke Rawalpindi dengan helicopter. Setelah mempelajari siapa Malala lewat Google, dia merasa ini bukan kasus biasa dan menjadi tanggung-jawabnya. Bila Malala meninggal, berarti dia telah ikut membunuh Ibu Teresa-nya Pakistan.
Dr. Fiona menyarankan agar Malala dibawa ke luar negeri karena Pakistan tidak memiliki fasilitas rehabilitasi ekstensif. Malala harus dipindahkan dalam waktu empat puluh delapan jam,paling lama tujuh puluh dua jam. Dr. javid menyarankan agar menerima tawaran dari Angkatan udara Inggris untuk memindahkan Malala ke Inggris. Namun Jenderal Kayani menolak keterlibatan militer asing. Pemerintah Pakistan juga enggan meminta bantuan pemerintah Inggris karena takut kehilangan muka. Keluarga pemerintha Uni Emirat Arab akhirnya turun tangan membantu menawarkan jet pribadi dengan fasilitas rumah sakit mini di dalam pesawat dengan staf perawat Eropa dipimpin seorang dokter Jerman. Pukul 5 pagi, tanggal 15 Oktober, akhirnya diterbangkan ke Rumah Sakit Queen Elizabeth di Birmingham.
                                                                             *****************
Birmingham, tanggal 16 Oktober 2012. Malala siuman seminggu setelah penembakan. Ribuan kilometer terbentang jarak antara rumahnya dengan tempatnya dirawat di negeri asing. Ayah ,ibu dan adik lelaki tak ada di sampingnya. Mereka masih tertahan di Pakistan. Ketika ayah ibunya akhirnya bisa datang, mereka menjumpai putrinya sudah berbeda dari yang dulu. Wajahnya tidak simetris karena setengah wajahnya tidak berfungsi. Dia tidak bisa tersenyum. Operasi wajahnya dilakukan tanggal 11 November 2012. Butuh waktu tiga bulan hingga sisi kiri wajahnya berfungsi sedikit demi sedikit. Malala akhirnya bisa keluar dari rumah sakit awal Januari 2013. Mereka tinggal di sebuah apartemen yang disewa Komisioner Tinggi Pakistan di pusat kota Birmingham. Namun dia masih menjalani operasi kembali di bulan Februari untuk memasang lempeng titanium dengan bantuan delapan sekerup yang berfungsi sebagai tengkorak dan melindungi otaknya. Karena gendang telinga kirinya rusak sehingga kurang bisa mendengar, dokter Irving memasang alat elektronik kecil di kepala dekat telinganya.
Doa Untuk Malala
Seluruh dunia terguncang dan marah atas penembakan Malala. Mantan Perdana Menteri Inggeris dan utusan khusus PBB untuk Pendidikan,George Brown, meluncurkan petisi yang menuntut agar tidak ada anak yang dilarang bersekolah pada tahun 2015, dengan semboyan “Aku Malala”. Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan tgl 10 November ,satu bulan satu hari setelah penembakan Malala sebagai Hari Malala. Ada 8000 kartu ucapan yang ditujukan padanya di rumah sakit Birmingham. Anak-anak mendiang Perdana Menteri Benazir Bhutto, datang membawa bingkisan berisi syal milik ibunya. Presiden Pakistan Asif Zardari datang mengunjunginya ke rumah sakit di Birmingham dan menyatakan seluruh biaya pengobatannya sejumlah £ 200.000 akan dibayar oleh pemerintah.
Pada ulang tahunnya keenam belas pada tahun 2013, Malala tampil di forum Perserikatan Bangsa-bangsa. Berdiri di podium dengan mengenakan syal putih Benazir Bhutto, Malala menghimbau para pemimpin dunia untuk memberikan pendidikan gratis kepada semua anak di dunia. Dia menyatakan betapa pentingnya buku,guru dan pena untuk setiap anak, karena mereka bisa mengubah dunia.
Nobel Perdamaian
Tanggal 10 Oktober 2014, Panitia Penghargaan Nobel di Stockholm Swedia mengumumkan pemenang Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2014. Penghargaan tahun ini diberikan kepada Malala bersama Kailash Satyarthi, seorang aktivis HAM dari India. Penghargaan ini diberikan atas perjuangan mereka berdua melawan tekanan terhadap anak dan remaja untuk mendapatkan pendidikan. Perjuangan keduanya merupakan langkah penting bagi seorang penganut Hindu dan Islam, warga India dan Pakistan, untuk bersama-sama memperjuangkan pendidikan dan melawan ekstrimisme.
 Di Negara-negara miskin, 60% penduduk berusia di bawah 25 tahun. Maka persyaratan pembangunan global yang damai adalah bahwa hak-hak anak dan orang muda harus dihormati. Malala, dalam usia muda, telah beberapa tahun memperjuangkan hak anak-anak perempuan untuk mendapatkan pendidikan. Dirinya menjadi contoh bahwa anak-anak dan orang muda bisa berkontribusi untuk memperbaiki situasi mereka sendiri.
Malala berbagi dua hadiah sebesar $1,1 juta dengan Kailash Sathyarthi. Dari hadiah yang diterimanya, Malala menyumbang $50.000 untuk pembangunan sekolah untuk anak-anak di Gaza.Malala bersama ayah dan temannya, juga telah mendirikan Malala Fund, sebuah organisasi yang membantu anak-anak perempuan untuk mendapatkan pendidikan berkualitas, dan dukungan bagi pekerja rumah tangga anak memberikan pendidikan bagi anak perempuan yang menikah muda dan tidak bisa ke sekolah, memberikan dana untuk perluasan sekolah dan infrastruktur sehingga lebih banyak anak perempuan yang bisa menikmati pendidikan berkualitas. Proyek mereka tersebar di Pakistan, Kenya, Nigeria dan Jordania.
EPILOG
Ketika Malala lahir, bintang terakhir sudah padam saat fajar menjelang. Namun Malala kini telah menjadi seorang anak yang menyinari banyak orang yang masih terkungkung dalam gelapnya paham sempit agama. Dia adalah gadis cilik yang mendorong para pemimpin dunia untuk memberikan hak bagi banyak anak perempuan akan pendidikan yang membebaskan di berbagai belahan bumi. Dia telah berjuang dengan melewati batas antara hidup dan mati. Memperjuangkan sesuatu yang lebih berharga dari nyawanya. Penyair Subagio Satrowardoyo pernah menuliskan sebuah requiem,”Dan Kematian Makin Akrab”:
Di ujung musim yang mati dulu
Bukan yang dirongrong penyakit tua, melainkan dia
Yang berdiri menentang angin
Di atas bukit atau dekap pantai
Dimana badai mengancam nyawa.
Sebelum umur pahlawan ditanam di gigir gunung
Atau di taman-taman pahlawan
Tempat anak-anak bermain layang-layang

Kini dia telah melangkah jauh dari rumah dan lembahnya. Wajah dan lingkungannya telah berubah. Namun keinginannya untuk memberi pendidikan bagi anak perempuan tetap sama. Dialah Bintang Fajar dari Lembah Swat. Malala..Malala…
BAHAN BACAAN
  1. I am Malala ,Menantang Maut di Perbatasan Pakistan-Afghanistan(terjemahan),Malala Yousafjay dan Christina Lamb, Penerbit Mizan, Bandung, Cet. I, Mei  2014
  2. Proses Kreatif, Mengapa dan bagaimana Saya Mengarang, Pamusuk Eneste (Editor), Penerbit PT Gramedia,Jakarta,1983
  3. Komite Hadiah Noble, http://www.nobelprize.org
  4. Malala Fund , http://www.malala.org/
  5. http://www.voaindonesia.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar