IN MEMORIAM ROMO
MANGUNWIJAYA
BURUNG MANYAR TERBANG
SENDIRI
PENDAHULUAN
Burung
Manyar (Weaver bird) termasuk
golongan burung pemakan biji-bijian (granivora)
dan senang berada di tempat terbuka seperti padang rumput, rawa dan persawahan. Di Indonesia ada 3 jenis
burung Manyar : Manyar tempua (Ploceus
philippinus),manyar jambul (Ploceus
manyar)dan manyar emas (Ploceus
hypoxanthus)[1]. Saat jelang musim panen tiba, biasanya terlihat
ribuan burung-burung Manyar melayang di angkasa. Lalu menukik ke bumi menyambar
tanaman padi petani di sawah. Petani sigap menjaga sawahnya dengan memakai tali
yang digerakkan untuk mengusir burung-burung itu. Sungguh suatu pemandangan yang
menakjubkan bagi anak- anak.
Kenangan masa
kanak-kanak itu menjadi inspirasi seorang penulis untuk merombak dan menulis
ulang novelnya yang kemudian terkenal :
“Burung-Burung Manyar” (1981). Sang
penulis, Yusuf Bilyarta Mangunwijaya atau Romo Mangun, lahir di Ambarawa tgl 29
Mei 1929. Anak pertama dari 12 bersaudara dari orangtua bernama Yulianus Sumadi
dan Serafin Kamdaniyah. Pendidikan dasar dan menengah ditempuhnya di HIS
Fransiscus Xaverius ,Muntilan , Magelang (1936-1943), kemudian di STM Jetis,
Yogyakarta (1943-1947) dan SMU-B Santo Albertus, Malang (1948-1951). Semasa
pelajar, beliau menjadi anggota Tentara Keamanan Rakyat di Yogyakarta pada saat
Revolusi Kemerdekaan, dan ikut bertempur di Ambarawa, Magelang dan Mranggen. Pernah
menjadi komandan Tentara Pelajar saat Agresi Militer Belanda I di Kompi Kedu.
Romo Mangun
adalah orang yang multi talenta. Selain menjadi pastor yang ditahbiskan tahun
1959,. beliau juga dikenal sebagai figur
sastrawan terkemuka Indonesia, kolumnis,
menjadi arsitek beberapa bangunan gereja, dan kemudian menjadi pembela hak
masyarakat yang tercerabut dari tanah tempat tinggalnya.
KARYA TULIS
Latar belakang
Romo Mangun terjun dalam dunia kepenulisan berawal jauh di masa pendidikan
dasar yang diterimanya. Pada masa Sekolah dasar yang diasuh biarawan-biarawan
Belanda, mereka dididik untuk berpikir dan mencintai kebenaran. Mereka diajak
untuk gemar memperluas cakrawala melalui
pelajaran ilmu bumi ,berfantasi ke negeri-negeri yang jauh dengan adat
kebudayaannya yang menarik. Selain itu, mereka juga diajarkan untuk mampu
mengekspresikan gagasan dan harapan mereka melalui kemampuan berpidato dan
membuat karangan tertulis setiap minggu.Latihan-latihan karangan mereka setiap
minggu misalnya berjudul : “ Melihat-lihat Pasar”, “Pengalaman dalam Liburan”,
“Melihat Borobudur”, merupakan suatu bentuk yang dalam kalangan ilmuwan disebut
Observasi. Di sini mereka melakukan pengamatan kondisi sekitarnya, membuat
analisa, memberikan penilaian , kemudian mengungkapkannya dalam karangan yang sistematik
dan menyenangkan pembaca.(1)
Romo Mangun
menganggap dirinya hanya seorang amatir dalam dunia sastra Indonesia. Namun
karya Romo Mangun mendapat tempat yang baik dalam dunia kesusatraan Indonesia karena
digarap dengan penuh kesungguhan yang terkadang membutuhkan waktu
bertahun-tahun. Novel Burung-burung
Manyar,misalnya, ditulis dalam waktu 7 tahun, setelah mengalami masa
pengendapan dan bongkar pasang hingga menemukan wujudnya yang terakhir. Buku
ini mendapat penghargaan dari Juri Yayasan Buku Utama thun 1983 dan Hadiah
South Esat Asian Write Award 1983 di Bangkok
Novelnya yang lain, “
Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa” terbit tahun 1983, terinspirasi dari tulisan
monograf Tuan A. Hueting tahun 1912 mengenai adat istiadan dan riawayat suku Tobelo, Halmahera, merupakan bentuk
ekspresi keindonesiaan Romo Mangun, setelah menulis novel Roro Mendut yang
diambil dari khasanah sastra Jawa. Novel ini merupakan gabungan dokumen
histrorik dan fiktif yang seolah tidak
ada sangkut pautnya namun masih kelihatan benang merahnya. Harapan Romo Mangun,
dengan penulisan novel ini, para penulis non Jawa juga mau menggali sejarah
suku mereka sendiri untuk memperkaya khasanah budaya Nusantara yang sangat luas
ini.[2]
Romo Mangun
cukup produktif dalam berkarya. Karya tulis fiksinya yang lain yaitu Romo
Rahadi (1981), Balada Becak (1985), Genduk Duku (Novel Trilogi bagian II), Lusi
Lindri (Novel Trilogi bagian III), Burung-Burung Rantau (1992) yang diangkat
dari Cerita Bersambung di Harian Kompas, Pohon-Pohon Sesawi (1999) dan Kumpulan
Cerpen Rumah Bambu. Dua buku terakhir diterbitkan setelah Romo Mangun meninggal
dunia. Sementara tulisan non fiksi antara lain, Ragawidya (1975),
Puntung-puntung Roro Mendut (1978, Kumpulan esai), Sastra dan Religiositas
(Esai, 1982), Gereja Diaspora (1999). Ada 3 buku yang sempat ditulisnya
berkaitan dengan dunia arsitektur yaitu Pengantar
Fisika Bangunan (1980), Citra
Arsitektur (1983) dan Wastu Citra
(1988).
KARYA ARSITEKTUR
Cita-cita Romo
Mangun sejak lama adalah menjadi Insinyur. Maka setelah menyelesaikan
pendidikan teologi di Institut Filsafat dan Teologi Santo Paulus,Yogyakarta,
tahun 1959, beliau kemudian menempuh pendidikan arsitektur di ITB selama 1
tahun. Kemudian melanjutkannya di Sekolah Teknik Tinggi Rheinland-Westfahlen, Aachen,
Jerman, selesai tahun 1966. Romo Mangun sempat mengajar selama 12 tahun di
Jurusan Teknik Arsitektur UGM. Sebagai praktisi, ada beberapa Gedung yang
menjadi hasil buah tangannya, antara lain Gedung
Bentara Budaya Jakarta, Gereja
Katolik Cilincing, Kompleks Religi
Sendangseno,Yogyakarta dan Kawasan
pemukiman masyarakat pinggiran di Kali Code. Rancangan pemukiman ini
mendapat penghargaan Aga Khan Award,
sedangkan Kompleks Peziarahan Sendangseno,Yogyakarta ,mendapat penghargaan dari
Ikatan Arsitektur Indonesia.
Ciri khas
rancangan arsitektur Romo Mangun adalah menggunakan kayu dan bambu. Perumahan
di Kali Code misalnya, dibuat dari bambu yang tumbuh di pinggir kali. Menurut
Romo, bambu dan kayu sesuai untuk iklim Indonesia yang panas dan lembab. Kayu dan bambu menurutnya sangat berkepribadian
Nusantara. [8]
Ciri lain adalah
bangunan karya Romo Mangun adalah dengan dinding bata polos tanpa plester atau
aci. Secara filosofi, makna bata tanpa plester ini menurut romo adalah hidup
apa adanya. Namun ternyata, tipe Bata tanpa plester yang dulu umum terdapat di
pedesaan, sekarang justru banyak ditemui di daerah perkotaan dengan istilah Bata Ekspos. Selain memberikan daya
tarik dan meningkatkan estetika rumah, cara ini juga memberi kesan hangat pada
sebuah rumah. Cara ini bisa diterapkan di mana saja, di ruang tamu, dapur,ruang
keluarga, kamar tidur dan teras rumah. Meski terlihat sepele, pemasangan bata
ekspos memerlukan tingkat kerapihan yang tinggi dan bata yang presisi dan
keras, agar tampilannya terlihat rata beraturan dan tidak mudah pecah. Bata
ekspos cocok diterapkan pada ruangan bergaya kontemporer atau modern etnik.[10]
Romo Mangun juga
sangat peduli dengan lingkungan hidup sehingga dia tidak setuju pemakaian cor
semen untuk menutup halaman karena mengakibatkan air hujan tidak bisa meresap
ke tanah. Akibatnya mata air jadi mati dan menimbulkan banjir. Menurutnya,
seharusnya setiap rumah atau pastoran juga harus ada kolamnya karena bisa
menjadi AC alam maupun untuk menyiram tanaman dan memelihara ikan. [6]
Sastra,Sains dan Teknologi
Meskipun Romo
Mangun menggeluti dunia kesusatraan serta Sains dan Teknologi secara serempak
dan intens, namun Romo Mangun berpendapat ada perbedaan besar di antara
keduanya. Dunia Sastra, menurut Romo, adalah dunia yang individualis, karena
karya sastra tidak mungkin dibuat secara kolektif. Sementara Dunia Sains dan Teknologi
modern menerapkan prinsip-prinsip kerja sama tim yang semakin bertumbuh,
semakin rumit dan organisasi yang ketat dan terkontrol penuh atas proses
perancangan, perencanaan material, produksi dan rantai proses lainnya seperti
pemasaran,periklanan dan layanan purna jual.Sains dan teknologi masa kini
adalah tim atau korporasi, bukan individu seperti era Marie Currie dan Thomas
Alva Edison. Prinsip teknologi modern adalah kolektif dan anonim , suatu super
ego sekaligus trans ego yang merupakan salah satu sumber keterasingan yang
menjadi gejala (ciri) khas masyarakat modern.[3]
PEMBELA HAM
Romo Mangun
meninggalkan jabatan sebagai dosen Universitas ternama tahun 1980. Panggilan
kemanusiaan untuk membantu masyarakat di pinggiran Kali Code telah menarik
hatinya seutuhnya. Romo keluar dari dinding tembok Paroki dan hidup bersama
masyarakat di sepanjang Kali Code. Dibuatnya bangunan rumah sederhana dari
bambu dan kayu untuk dirinya dan tetangganya. Mereka ada yang berprofesi
sebagai tukang semir, tukang copet, perampok bahkan pelacur. Bambu itu
diperoleh dari tumbuhan di pinggir kali. Kampung di pinggiran kali itu nampak
meriah oleh rumah yang dicat warna-warni.
Namun terkadang
mendung datang di tengah hari yang cerah. Tahun 1985, pemerintah membuat
kebijakan untuk membuat Jalur Hijau di sepanjang sungai yang membentang di
tengah kota Yogyakarta itu. Romo Mangun secara sadar menentang kebijakan
pemerintah itu sembari berupaya menyakinkan akan manfaat keberadaan
perkampungan itu di sekitar sungai. Ancaman melakukan mogok makan
dilontarkannya bila pemerintah tetap bersikeras melakukan
penggusuran.Pemerintah akhirnya membatalkan rencana penggusuran.
Pada tahun 1989,
Romo Mangun tampil membela sekitar 600 keluarga korban penggusuran
pembangunan Waduk Kedung Ombo, Jawa
tengah. Awalnya, tahun 1985, pemerintah merencanakan pembangunan sebuah waduk
di Jawa Tengah. Waduk bernama Kedung Ombo ini direncanakan untuk menampung air
untuk pembangkit tenaga listrik berkekuatan 22,3 MW dan pengairan sawah di
sekelinglingnya seluas 70 ha.Biaya pembangunan waduk ini didapat dari
konsorsium Bank Dunia sebesar USD 156 juta, Bank Exim Jepang sebesar USD 25,2
juta serta dari APBN.
Waduk selesai
dibangun tahun 1989 dan mulai diairi tanggal 14 Januari 1989 yang
menenggelamkan 37 desa dan 7 kabupaten di 3 kabupaten. Akibat pembangunan waduk
ini, kurang lebih 5200 keluarga kehilangan tanahnya.
Romo Mangun mendengar
kisah perjuangan rakyat Kedungombo saat dirawat di rumah sakit di Semarang.
Saat itu beberapa orang anak muda datang menemuinya untuk mendapat dukungan
perjuangan. Dua hari setelah kunjungan mereka, Romo Mangun langsung dinyatakan
sehat oleh dokter. Kemudian bersama seorang pemuda, Romo menuju Dusun
Kedungpring. Untuk mengelabui tentara yang berjaga ketat, pemuda tersebut
menyamar menjadi penjual palu dan arit,sementara Romo Mangun mengaku sebagai
paman salah seorang warga yang datang dari Yogya.Mereka berdua lolos masuk ke
lokasi.
Di dusun
Kedungpri dan Mlangi ,Romo bersama relawan muda mendirikan sekolah darurat
dengan dibantu suster, frater dan perpusatakaan air keliling. Pepustakaan
keliling itu mengunjungi dusun ke dusun dengan mengarungi permukaan waduk.
Tujuan Romo adalah agar anak-anak tetap dapat belajar dan tidak menjadi bodoh. Dua
tahun lamanya sekolah darurat itu berjalan hingga ada sekolah terdekat yang mau
menerima anak-anak itu.
Romo Mangun
mengajari warga strategi perjuangan. Mereka disuruh berangkat menemui
tokoh-tokoh sahabat romo di Jakarta untuk mendapatkan dukungan. Proses hukum
kasasi warga Kedungombo berlangsung bertahun-tahun hingga akhirnya dimenangkan
Mahkamah Agung tahun 1994. Tapi melalui proses Peninjauan Kembali (PK), MA
membatalkan keputusan tersebut 3 bulan kemudian. Warga Kedungombo dinyatakan
kalah. [9]
Romo
Mangun di Mata Sahabat
Tanggal 10 Februari
1999, Romo Mangun menjadi pembicara Simposium “Meningkatkan Buku Dalam Upaya
membentuk Masyarakat Baru Indonesia di Hotel Le Meridien,Jakarta. Kegiatan
menjadi pembicara dan diskusi sebelumnya sudah dihindarinya karena kondisi
kesehatan jantung yang sudah dipasang microhip pemacu jantung sejak tahun 1990.
Ketika bersalaman dengan Mohamad Sobary,panelis lainnya, tiba-tiba Romo
Mangun limbung dan akhirnya meninggal.
Budayawan Mudji
Sutrisno mengenang Romo Mangun sebagai rohaniawan yang menhidupi imannya dengan
tindakan nyata. Dia bukan hanya pastor yang melayani misa, tapi terlibat dalam
membahasakan cinta. Sementara wartawan kawakan Rosihan Anwar menuliskan bahwa
Romo Mangun adalah seorang seorang suri
tauladan dalam memperjuangkan demokrasi, kedaulatan rakyat, keadian social dan
kemanusiaan. Kedekatan Rosihan dan Romo Mangun tidaklah khubungan secara fisik, tetapi hubungan secara
intelektual dan spiritual. Mereka sama-sama pengagum Sutan Syahrir sebagai
seorang Sosialis Demokrat.[7] Kekaguman Romo Mangun terhadap Sutan
Syahrir terlihat jelas tergambar dalam roman Burung-burung Manyar. Melalui tokohnya, dikatakan bahwa Belanda
lebih menakuti Sutan Syahrir daripada Soekarno, karena Sutan Syahrir sosok yang
tenang dan bisa berdiplomasi dengan pejabat tinggi Belanda dibanding Soekarno
yang hanya bisa membakar emosi massa.[5]
PENUTUP
Kabar berpulangnya
Romo Mangun, menyentak banyak orang. Segera kami bergegas ke RS. St. Carolus tempatnya disemayamkan
sementara. Di atas ranjang, terlihat seorang Romo yang telah memberikan hidupnya untuk kemanusiaan melalui tulisan,karya
arsitektur, pendidikan dan pendampingan orang-orang terpinggirkan. Tubuhnya
kini terbujur kaku dalam balutan jubah warna kuning. Namun wajahnya terlihat
damai. Waktunya telah tiba bagi dia yang
telah menulis novel Burung-Burung Manyar
dan Burung–burung Rantau. Senja itu, Sang
Burung Manyar hanya terbang sendiri. Mengepakkan sayap-sayap kecilnya, kembali
ke rumah Bapanya di Surga. (Rihat Hutagalung)
Referensi:
1.
Burung Manyar
,http://id.wikipedia.org
2.
Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang,Pamusuk Eneste (Editor), Penerbit PT Gunung Agung,
Jakarta, 1986
3.
Dua Puluh Sastrawan Bicara, Penerbit PT Sinar Harapan,Jakarta, 1984,hal 124-130.
4.
Rumah Bambu
(Kumpulan Cerpen), Y.B. Mangunwijaya, Penerbit, KPG, Jakarta, 2000
5.
Burung-Burung Manyar, Y.B. Mangunwijaya,Cet. 16, Penerbit PT Djambatan, Jakarta, 2010
6.
Kotak Hitam Sang Burung Manyar, Y.Suyatno Hadiatmojo,Pr, Penerbit Galangpress,
Yogyakarta,2013
7.
Sejarah Kecil (Petite Histoire) Indonesia Jilid 6, Rosihan Anwar, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2012
8.
Hidup Rakyat Kecil, Pilihan Awal dan Akhir Romo
Mangun, Laporan Tim HIDUP, http://mangunwijaya.blogspot.com
9.
Kisah dari Kedungombo, Ambara Muji Prakosa
10. Bermain
dengan Bata Ekspos, Harian Kompas, 9 Maret 2013,hal 43.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar