Senin, 10 Februari 2014

IN MEMORIAM ROMO MANGUNWIJAYA :BURUNG MANYAR TERBANG SENDIRI

IN MEMORIAM ROMO MANGUNWIJAYA
BURUNG MANYAR TERBANG SENDIRI



 PENDAHULUAN


Burung Manyar (Weaver bird) termasuk golongan burung pemakan biji-bijian (granivora) dan senang berada di tempat terbuka seperti padang rumput, rawa  dan persawahan. Di Indonesia ada 3 jenis burung Manyar : Manyar tempua (Ploceus philippinus),manyar jambul (Ploceus manyar)dan manyar emas (Ploceus hypoxanthus)[1]. Saat jelang musim panen tiba, biasanya terlihat ribuan burung-burung Manyar melayang di angkasa. Lalu menukik ke bumi menyambar tanaman padi petani di sawah. Petani sigap menjaga sawahnya dengan memakai tali yang digerakkan untuk mengusir burung-burung itu. Sungguh suatu pemandangan yang menakjubkan bagi anak- anak.

Kenangan masa kanak-kanak itu menjadi inspirasi seorang penulis untuk merombak dan menulis ulang  novelnya yang kemudian terkenal : “Burung-Burung Manyar” (1981). Sang penulis, Yusuf Bilyarta Mangunwijaya atau Romo Mangun, lahir di Ambarawa tgl 29 Mei 1929. Anak pertama dari 12 bersaudara dari orangtua bernama Yulianus Sumadi dan Serafin Kamdaniyah. Pendidikan dasar dan menengah ditempuhnya di HIS Fransiscus Xaverius ,Muntilan , Magelang (1936-1943), kemudian di STM Jetis, Yogyakarta (1943-1947) dan SMU-B Santo Albertus, Malang (1948-1951). Semasa pelajar, beliau menjadi anggota Tentara Keamanan Rakyat di Yogyakarta pada saat Revolusi Kemerdekaan, dan ikut bertempur di Ambarawa, Magelang dan Mranggen. Pernah menjadi komandan Tentara Pelajar saat Agresi Militer Belanda I di Kompi Kedu.
Romo Mangun adalah orang yang multi talenta. Selain menjadi pastor yang ditahbiskan tahun 1959,. beliau juga  dikenal sebagai figur sastrawan terkemuka  Indonesia, kolumnis, menjadi arsitek beberapa bangunan gereja, dan kemudian menjadi pembela hak masyarakat yang tercerabut dari tanah tempat tinggalnya.
KARYA TULIS
Latar belakang Romo Mangun terjun dalam dunia kepenulisan berawal jauh di masa pendidikan dasar yang diterimanya. Pada masa Sekolah dasar yang diasuh biarawan-biarawan Belanda, mereka dididik untuk berpikir dan mencintai kebenaran. Mereka diajak untuk  gemar memperluas cakrawala melalui pelajaran ilmu bumi ,berfantasi ke negeri-negeri yang jauh dengan adat kebudayaannya yang menarik. Selain itu, mereka juga diajarkan untuk mampu mengekspresikan gagasan dan harapan mereka melalui kemampuan berpidato dan membuat karangan tertulis setiap minggu.Latihan-latihan karangan mereka setiap minggu misalnya berjudul : “ Melihat-lihat Pasar”, “Pengalaman dalam Liburan”, “Melihat Borobudur”, merupakan suatu bentuk yang dalam kalangan ilmuwan disebut Observasi. Di sini mereka melakukan pengamatan kondisi sekitarnya, membuat analisa, memberikan penilaian , kemudian mengungkapkannya dalam karangan yang sistematik dan menyenangkan pembaca.(1)
Romo Mangun menganggap dirinya hanya seorang amatir dalam dunia sastra Indonesia. Namun karya Romo Mangun mendapat tempat yang baik dalam dunia kesusatraan Indonesia karena digarap dengan penuh kesungguhan yang terkadang membutuhkan waktu bertahun-tahun.  Novel Burung-burung Manyar,misalnya, ditulis dalam waktu 7 tahun, setelah mengalami masa pengendapan dan bongkar pasang hingga menemukan wujudnya yang terakhir. Buku ini mendapat penghargaan dari Juri Yayasan Buku Utama thun 1983 dan Hadiah South Esat Asian Write Award 1983 di Bangkok
Novelnya yang lain, “ Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa” terbit tahun 1983, terinspirasi dari tulisan monograf Tuan A. Hueting tahun 1912 mengenai adat istiadan dan riawayat  suku Tobelo, Halmahera, merupakan bentuk ekspresi keindonesiaan Romo Mangun, setelah menulis novel Roro Mendut yang diambil dari khasanah sastra Jawa. Novel ini merupakan gabungan dokumen histrorik dan fiktif  yang seolah tidak ada sangkut pautnya namun masih kelihatan benang merahnya. Harapan Romo Mangun, dengan penulisan novel ini, para penulis non Jawa juga mau menggali sejarah suku mereka sendiri untuk memperkaya khasanah budaya Nusantara yang sangat luas ini.[2]
Romo Mangun cukup produktif dalam berkarya. Karya tulis fiksinya yang lain yaitu Romo Rahadi (1981), Balada Becak (1985), Genduk Duku (Novel Trilogi bagian II), Lusi Lindri (Novel Trilogi bagian III), Burung-Burung Rantau (1992) yang diangkat dari Cerita Bersambung di Harian Kompas, Pohon-Pohon Sesawi (1999) dan Kumpulan Cerpen Rumah Bambu. Dua buku terakhir diterbitkan setelah Romo Mangun meninggal dunia. Sementara tulisan non fiksi antara lain, Ragawidya (1975), Puntung-puntung Roro Mendut (1978, Kumpulan esai), Sastra dan Religiositas (Esai, 1982), Gereja Diaspora (1999). Ada 3 buku yang sempat ditulisnya berkaitan dengan dunia arsitektur yaitu Pengantar Fisika Bangunan (1980), Citra Arsitektur (1983) dan Wastu Citra (1988).
KARYA ARSITEKTUR
Cita-cita Romo Mangun sejak lama adalah menjadi Insinyur. Maka setelah menyelesaikan pendidikan teologi di Institut Filsafat dan Teologi Santo Paulus,Yogyakarta, tahun 1959, beliau kemudian menempuh pendidikan arsitektur di ITB selama 1 tahun. Kemudian melanjutkannya di Sekolah Teknik Tinggi Rheinland-Westfahlen, Aachen, Jerman, selesai tahun 1966. Romo Mangun sempat mengajar selama 12 tahun di Jurusan Teknik Arsitektur UGM. Sebagai praktisi, ada beberapa Gedung yang menjadi hasil buah tangannya, antara lain Gedung Bentara Budaya Jakarta, Gereja Katolik Cilincing, Kompleks Religi Sendangseno,Yogyakarta dan Kawasan pemukiman masyarakat pinggiran di Kali Code. Rancangan pemukiman ini mendapat penghargaan Aga Khan Award, sedangkan Kompleks Peziarahan Sendangseno,Yogyakarta ,mendapat penghargaan dari Ikatan Arsitektur Indonesia.
Ciri khas rancangan arsitektur Romo Mangun adalah menggunakan kayu dan bambu. Perumahan di Kali Code misalnya, dibuat dari bambu yang tumbuh di pinggir kali. Menurut Romo, bambu dan kayu sesuai untuk iklim Indonesia yang panas  dan lembab. Kayu dan bambu menurutnya sangat berkepribadian Nusantara. [8]
Ciri lain adalah bangunan karya Romo Mangun adalah dengan dinding bata polos tanpa plester atau aci. Secara filosofi, makna bata tanpa plester ini menurut romo adalah hidup apa adanya. Namun ternyata, tipe Bata tanpa plester yang dulu umum terdapat di pedesaan, sekarang justru banyak ditemui di daerah perkotaan dengan istilah Bata Ekspos. Selain memberikan daya tarik dan meningkatkan estetika rumah, cara ini juga memberi kesan hangat pada sebuah rumah. Cara ini bisa diterapkan di mana saja, di ruang tamu, dapur,ruang keluarga, kamar tidur dan teras rumah. Meski terlihat sepele, pemasangan bata ekspos memerlukan tingkat kerapihan yang tinggi dan bata yang presisi dan keras, agar tampilannya terlihat rata beraturan dan tidak mudah pecah. Bata ekspos cocok diterapkan pada ruangan bergaya kontemporer atau modern etnik.[10]
Romo Mangun juga sangat peduli dengan lingkungan hidup sehingga dia tidak setuju pemakaian cor semen untuk menutup halaman karena mengakibatkan air hujan tidak bisa meresap ke tanah. Akibatnya mata air jadi mati dan menimbulkan banjir. Menurutnya, seharusnya setiap rumah atau pastoran juga harus ada kolamnya karena bisa menjadi AC alam maupun untuk menyiram tanaman dan memelihara ikan. [6]
Sastra,Sains dan Teknologi
Meskipun Romo Mangun menggeluti dunia kesusatraan serta Sains dan Teknologi secara serempak dan intens, namun Romo Mangun berpendapat ada perbedaan besar di antara keduanya. Dunia Sastra, menurut Romo, adalah dunia yang individualis, karena karya sastra tidak mungkin dibuat secara kolektif. Sementara Dunia Sains dan Teknologi modern menerapkan prinsip-prinsip kerja sama tim yang semakin bertumbuh, semakin rumit dan organisasi yang ketat dan terkontrol penuh atas proses perancangan, perencanaan material, produksi dan rantai proses lainnya seperti pemasaran,periklanan dan layanan purna jual.Sains dan teknologi masa kini adalah tim atau korporasi, bukan individu seperti era Marie Currie dan Thomas Alva Edison. Prinsip teknologi modern adalah kolektif dan anonim , suatu super ego sekaligus trans ego yang merupakan salah satu sumber keterasingan yang menjadi gejala (ciri) khas masyarakat modern.[3]
PEMBELA HAM
Romo Mangun meninggalkan jabatan sebagai dosen Universitas ternama tahun 1980. Panggilan kemanusiaan untuk membantu masyarakat di pinggiran Kali Code telah menarik hatinya seutuhnya. Romo keluar dari dinding tembok Paroki dan hidup bersama masyarakat di sepanjang Kali Code. Dibuatnya bangunan rumah sederhana dari bambu dan kayu untuk dirinya dan tetangganya. Mereka ada yang berprofesi sebagai tukang semir, tukang copet, perampok bahkan pelacur. Bambu itu diperoleh dari tumbuhan di pinggir kali. Kampung di pinggiran kali itu nampak meriah oleh rumah yang dicat warna-warni.
Namun terkadang mendung datang di tengah hari yang cerah. Tahun 1985, pemerintah membuat kebijakan untuk membuat Jalur Hijau di sepanjang sungai yang membentang di tengah kota Yogyakarta itu. Romo Mangun secara sadar menentang kebijakan pemerintah itu sembari berupaya menyakinkan akan manfaat keberadaan perkampungan itu di sekitar sungai. Ancaman melakukan mogok makan dilontarkannya bila pemerintah tetap bersikeras melakukan penggusuran.Pemerintah akhirnya membatalkan rencana penggusuran.
Pada tahun 1989, Romo Mangun tampil membela sekitar 600 keluarga korban penggusuran pembangunan  Waduk Kedung Ombo, Jawa tengah. Awalnya, tahun 1985, pemerintah merencanakan pembangunan sebuah waduk di Jawa Tengah. Waduk bernama Kedung Ombo ini direncanakan untuk menampung air untuk pembangkit tenaga listrik berkekuatan 22,3 MW dan pengairan sawah di sekelinglingnya seluas 70 ha.Biaya pembangunan waduk ini didapat dari konsorsium Bank Dunia sebesar USD 156 juta, Bank Exim Jepang sebesar USD 25,2 juta serta dari APBN.
Waduk selesai dibangun tahun 1989 dan mulai diairi tanggal 14 Januari 1989 yang menenggelamkan 37 desa dan 7 kabupaten di 3 kabupaten. Akibat pembangunan waduk ini, kurang lebih 5200 keluarga kehilangan tanahnya.
Romo Mangun mendengar kisah perjuangan rakyat Kedungombo saat dirawat di rumah sakit di Semarang. Saat itu beberapa orang anak muda datang menemuinya untuk mendapat dukungan perjuangan. Dua hari setelah kunjungan mereka, Romo Mangun langsung dinyatakan sehat oleh dokter. Kemudian bersama seorang pemuda, Romo menuju Dusun Kedungpring. Untuk mengelabui tentara yang berjaga ketat, pemuda tersebut menyamar menjadi penjual palu dan arit,sementara Romo Mangun mengaku sebagai paman salah seorang warga yang datang dari Yogya.Mereka berdua lolos masuk ke lokasi.
Di dusun Kedungpri dan Mlangi ,Romo bersama relawan muda mendirikan sekolah darurat dengan dibantu suster, frater dan perpusatakaan air keliling. Pepustakaan keliling itu mengunjungi dusun ke dusun dengan mengarungi permukaan waduk. Tujuan Romo adalah agar anak-anak tetap dapat belajar dan tidak menjadi bodoh. Dua tahun lamanya sekolah darurat itu berjalan hingga ada sekolah terdekat yang mau menerima anak-anak itu.
Romo Mangun mengajari warga strategi perjuangan. Mereka disuruh berangkat menemui tokoh-tokoh sahabat romo di Jakarta untuk mendapatkan dukungan. Proses hukum kasasi warga Kedungombo berlangsung bertahun-tahun hingga akhirnya dimenangkan Mahkamah Agung tahun 1994. Tapi melalui proses Peninjauan Kembali (PK), MA membatalkan keputusan tersebut 3 bulan kemudian. Warga Kedungombo dinyatakan kalah. [9]
Romo Mangun di Mata Sahabat
Tanggal 10 Februari 1999, Romo Mangun menjadi pembicara Simposium “Meningkatkan Buku Dalam Upaya membentuk Masyarakat Baru Indonesia di Hotel Le Meridien,Jakarta. Kegiatan menjadi pembicara dan diskusi sebelumnya sudah dihindarinya karena kondisi kesehatan jantung yang sudah dipasang microhip pemacu jantung sejak tahun 1990. Ketika bersalaman dengan Mohamad Sobary,panelis lainnya, tiba-tiba Romo Mangun  limbung dan akhirnya meninggal.
Budayawan Mudji Sutrisno mengenang Romo Mangun sebagai rohaniawan yang menhidupi imannya dengan tindakan nyata. Dia bukan hanya pastor yang melayani misa, tapi terlibat dalam membahasakan cinta. Sementara wartawan kawakan Rosihan Anwar menuliskan bahwa Romo Mangun  adalah seorang seorang suri tauladan dalam memperjuangkan demokrasi, kedaulatan rakyat, keadian social dan kemanusiaan. Kedekatan Rosihan dan Romo Mangun tidaklah khubungan  secara fisik, tetapi hubungan secara intelektual dan spiritual. Mereka sama-sama pengagum Sutan Syahrir sebagai seorang Sosialis Demokrat.[7] Kekaguman Romo Mangun terhadap Sutan Syahrir terlihat jelas tergambar dalam roman Burung-burung Manyar. Melalui tokohnya, dikatakan bahwa Belanda lebih menakuti Sutan Syahrir daripada Soekarno, karena Sutan Syahrir sosok yang tenang dan bisa berdiplomasi dengan pejabat tinggi Belanda dibanding Soekarno yang hanya bisa membakar emosi massa.[5]
PENUTUP
Kabar berpulangnya Romo Mangun, menyentak banyak orang. Segera kami bergegas  ke RS. St. Carolus tempatnya disemayamkan sementara. Di atas ranjang, terlihat seorang Romo yang telah memberikan  hidupnya untuk kemanusiaan melalui tulisan,karya arsitektur, pendidikan dan pendampingan orang-orang terpinggirkan. Tubuhnya kini terbujur kaku dalam balutan jubah warna kuning. Namun wajahnya terlihat damai. Waktunya telah tiba bagi dia  yang telah menulis novel Burung-Burung Manyar dan Burung–burung Rantau. Senja itu, Sang Burung Manyar hanya terbang sendiri. Mengepakkan sayap-sayap kecilnya, kembali ke rumah Bapanya di Surga. (Rihat Hutagalung)
Referensi:
1.       Burung Manyar ,http://id.wikipedia.org
2.       Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang,Pamusuk Eneste (Editor), Penerbit PT Gunung Agung, Jakarta, 1986
3.       Dua Puluh Sastrawan Bicara, Penerbit PT Sinar Harapan,Jakarta, 1984,hal 124-130.
4.       Rumah Bambu (Kumpulan Cerpen), Y.B. Mangunwijaya, Penerbit, KPG, Jakarta, 2000
5.       Burung-Burung Manyar, Y.B. Mangunwijaya,Cet. 16, Penerbit PT Djambatan, Jakarta, 2010
6.       Kotak Hitam Sang Burung Manyar, Y.Suyatno Hadiatmojo,Pr, Penerbit Galangpress, Yogyakarta,2013
7.       Sejarah Kecil (Petite Histoire) Indonesia Jilid 6, Rosihan Anwar, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2012
8.       Hidup Rakyat Kecil, Pilihan Awal dan Akhir Romo Mangun, Laporan Tim HIDUP, http://mangunwijaya.blogspot.com
9.       Kisah dari Kedungombo, Ambara Muji Prakosa
10.    Bermain dengan Bata Ekspos, Harian Kompas, 9 Maret 2013,hal 43.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar