Jumat, 06 Juni 2008

MENUMBUHKAN WIRAUSAHA SOSIAL


Wirausahawan sosial bermakna seseorang yang memiliki visi, kreatifitas dan komitmen yang luar biasa untuk melakukan perubahan-perubahan maupun upaya untuk mengatasi permasalahan yang ada di sekelingnya. Mereka mengabdikan kemampuannya untuk memperkenalkan solusi baru terhadap masalah-masalah sosial.

Wirausaha sosial mulai populer akhir-akhir ini, terutama setelah terpilihnya Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank di Bangladesh sebagai pemenang hadian Nobel Perdamaian tahun 2006. Kemenangan M.Yunus menyadarkan banyak orang bahwa usaha-usaha Perdamaian tidak semata-mata berkaitan dengan upaya meredam ketegangan bersenjata antar pihak, tapi juga bagaimana mengentaskan kemiskinan yang ada di sekitar kita. Praktek pemberian kredit untuk warga miskin yang berjalan lancar selama 30 tahun sekaligus mematahkan argumen pihak perbankan yang selalu memberi alasan orang miskin tidak bankable, tidak punya jaminan dsb, untuk tidak berani memberi pinjaman kepada orang miskin. Padahal justru karena miskinlah maka seharusnya pihak bank memberi pinjaman dan membantu cara mengelola keuangan agar mereka mampu keluar dari lingkaran kemiskinan yang melingkupinya dari generasi ke generasi. Di sisi lain , pihak perbankan mau memberikan pinjaman bernilai milyaran hingga trilyunan rupiah kepada pengusaha yang ujungnya berakhir sebagai kredit macet.

Di tingkat lokal, salah seorang yang juga mendapat penghargaan dari Ashoka Foundation sebagai wirausaha sosial adalah Santoso, pendiri Kantor Berita 68H. Pada era Suharto, stasiun radio swasta tidak diperkenankan untuk memproduksi berita. Semua radio harus merelai siaran berita yang dipancarkan oleh RRI. Bermula dari ide di selembar kertas yang disampaikan ke beberapa rekan kerjanya, Santoso memulai kantor berita yang mula-mula direlai oleh 7 stasiun radio pada tahun 1999. Kini sudah ada sekitar 500 stasiun radio yang bergabung dalam jaringan 68H di seluruh Indonesia dengan pendengar sekitar 13 juta orang. Selain itu, KBR 68H juga aktif membantu perintisan radio-radio di daerah -daerah terpencil di Papua dan Maluku, juga membangun kembali stasiun-stasiun radio yang rusak akibat bencana. Pembangunan stasiun radio juga berarti membangun infrastruktur dan sumber tenaga listrik untuk pemancar. Saat ini , KBR 68H sudah mulai menjalin hubungan dengan stasiun radio dan televisi di luar negeri. Atas usahanya tersebutlah, Santoso memperoleh Fellowship Ashoka 2006.

Di masa depan, sesungguhnya dibutuhkan lebih banyak wirausaha sosial yang mampu melihat solusi dari sekian banyak permasalahan yang melingkupi negeri ini. Permasalahan sempitnya lapangan kerja, lulusan perguruan tinggi dan sekolah menengah yang kurang memiliki keterampilan, penggundulan hutan, sulitnya mendapatkan modal untuk memulai usaha,dll, merupakan masalah yang tak henti mendera. Di sinilah dibutuhkan individu-individu yang memiliki jiwa wirausaha sosial yang tangguh dan konsisten. Diperlukan M.Yunus muda dan Santoso-santoso lain untuk menjawab persoalan ini. Andakah orangnya?

Bojong Kulur ,17 Desember 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar